MEMBANDINGKAN SUMBER AJARAN TIAP AGAMA
(Aspek theologis)

Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang memiliki pengalaman yang mirip. Maka tak heran, bahwa untuk beberapa pengertian yang sering kita dengar saja (seperti “demokrasi”, “hak asasi manusia”, dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda) dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda pula pemahamannya.

Karena itu pulalah, ada ajaran yang cepat ditelan musim. Seseorang yang memegang ajaran seperti ini, jelas suatu saat akan goyah. Sebagai contoh adalah kaum komunis. Usia ajaran ini ternyata tidak bertahan lebih dari satu abad. Demikian pula dengan ajaran banyak sekte keagamaan atau aliran kepercayaan.

Untuk menghindari ajaran yang salah, manusia pertama-tama harus melihat sumber ajaran itu. Apakah ajaran itu bersumber dari dasar-dasar yang rapuh?

Dalam hal ini, agama-agama yang sudah cukup tua agak “mengundang” untuk dipelajari, karena mereka menunjukkan sudah “tahan bantingan” untuk kurun waktu yang sangat lama. Namun demikian tetap perlu dipertanyakan, akankah ajaran-ajaran “kuno” ini mampu survive menghadapi zaman post moden dengan kehebatan pemikirannya seperti dewasa ini?

Di zaman modern ini orang tidak bisa begitu saja “dikelabuhi”. Kita tidak bisa begitu saja bilang: “Agama X ini benar, karena kitab sucinya bilang begitu …. “. Dan: “Kitab ini benar, karena masih asli dari pembawanya. Dan kebenaran pembawa ajaran ini dijamin di kitab itu…”.

Logika “circular” (berputar-putar) ini tidak bisa memuaskan kehausan iman manusia modern. Suatu “teori kebenaran” hanya akan bertahan, kalau ia tidak bisa difalsifikasi (tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah). Hal ini karena suatu proses falsifikasi, cukup memerlukan satu bukti. Sedang suatu proses pembenaran, memerlukan seluruh bukti, yang tentu saja sulit, karena kita sering tidak tahu, berapa jumlah bukti yang dibutuhkan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s